Jejak Bruang

Ikuti kemana ku melangkah

Kemacetan

Posting ini berada sepenuhnya dibawah dan merupakan bagian dari kategori Jejak Ide. Dengan membaca, mendengar atau mengetahui isi posting dibawah ini berarti anda dengan sadar telah menyetujui Term and Condition Jejak Ide. Jika anda tidak menyetujui Term and Condition Jejak Ide silahkan Jangan dibaca/diketahui/didengar😉 .

KEMACETAN LALULINTAS

“Sebuah Masalah Yang Selalu Menjadi Masalah”

Hal yg gw ga ngerti dari pemerintah adalah menyikapi kemacetan dengan melakukan pelebaran jalan sebagai solusi kemacetan. Bayangkan saja jalanan dah mentok krn lebarnya cuma segitu2 aja dan pelebaran jalan dilakukan dengan cara mengambil trotoar atau pun membangun jembatan layang. Selain memakan biaya yg pasti besar, dampak dan efek selama pelebaran atau pembangunan jalan layang itu juga sangat besar,salah satunya yaa makin macet.

Jadi gimana donk solusi mengatasi kemacetannya? Sebelumnya, tulisan ttg bagaimana mengatasi kemacetan ini adalah edisi kedua dari kategori jejak ide, jadi biarkanlah sejenak gw terkagum2 sendiri dengan kategori terbaru dari Jejak Bruang ini, hahaha.. Kembali ke kemacetan untuk solusinya ga simple alias ribet banget, tp percayalah sesuatu yg ribet dan kompleks akan menghasilkan sesuatu yg sangat simple (liat tuh ipad, gampang kn menggunakannya tinggal sentuh dan geser. Tapi dibalik itu? jutaan baris kode program yg saling terkait dan rumit) see.. Complexity Lead to Simplicity u know.. Balik ke solusi kemacetan, Nahh krn masalah kemacetan menurut gw sangat kompleks, sedangkan kemacetan yang dimaksud adalah dijalan raya (yiuu emgnya macet yang gw maksud macet apa? macet di laut?) jadi marilah kita bahas dr sisi setiap entitas terkait dengan jalan raya yuk :

Pengguna Jalan

Pengguna jalan adalah faktor utama dalam kemacetan. Gw inget kata temen kantor gw dulu si kemal yg notabene orang Jakarta krn lahir disini, “Yg bikin Jakarta macet tu penghuni dari luar Jakarta bear !!” jadi maksud lo gw yg dari Bandung bikin macet jkt gitu?! Bayangkan setiap orang yang tinggal dari luar Jakarta mempunyai satu kendaraan, besoknya istrinya punya juga, besoknya lagi anak pertama, lalu anak kedua, anak ketiga yang punya kendaraan dan terakhir kakeknya, neneknya, om, tante mertua, ipar, ponakan, sepupu, anak angkat, pembantu, dll. Waduuhh.. itu cuma dari satu keluarga aja, kebayang ga ada berapa juta keluarga yang tinggal didalam dan diluar Jakarta. Dan setiap bulannya Jakarta kedatangan penghuni baru (antara pencari kerja atau udah dapat kerjaan). Gimana ga penuh tu jalanan dengan kendaraan pribadi. Disisi lain pertumbuhan ekonomi yang mulai berkembang pesat juga memicu volume pengguna jalan. Dimana darat menjadi tumpuan utama untuk pergerakan barang dan jasa. Sehingga tidak aneh kita melihat banyak sekali sepeda kayuh dengan box, sepeda motor dengan tas samping kiri kanan, mobil pickup, mobil box, truk, ampe container hilir mudik kesana kesini disetiap jamnya. Ditambah lagi angkutan umum yang sudah beroperasi seperti angkot, bus, mini-bus, taksi, truk pake terpal. Semuanya numpuk dijalan raya.

Infrastruktur Jalan

Menurut gw sudah bagus untuk jalan2 protokol (secara gt ya) di ibukota Jakarta. Termasuk jalan2 semi-protokolnya. Namun jalanan non protokol tu masih banyak yg rusak. Padahal jalan non-protokol dapat menjadi jalan alternatif untuk mencapai tujuan dan dapat mengurangi ‘workload’ jalan protokol. Tapi ga selamanya jalanan non-protokol bisa menjadi perelai kemacetan dijalan protokol, terkadang malah jalanan non-protokol ini menjadi penyebab kemacetan pada jalan protokol. contohnya misalnya ada mobil dari jalan protokol belok ke jalanan non protokol, krn prinsip orang indo adalah orang2 yang ga sabaran jadi antrian mobil ga rapih lurus satu jalur, efeknya mobil dibelakang juga tersendat (sering ga ngeliat kenapa jalannya gede tapi kok macet, ujung2nya karena mobil ngantri masuk jalan kecil). Pelebaran jalan perlu tapi bukan prioritas (walau pribadi nurut gw kemajuan suatu kota bs dilihat dr lebar jalannya. namun bukan ini tujuannya), inget ga pas cikampek dilakukan pelebaran jalan dari 3 ruas jalur menjadi 4 ruas? Itu butuh satu jalur untuk melewatkan truk pasir, traktor dll. Artinya yg 3 ruas aj udh macet dijadikan 2 ruas. Makanya puluhan km macet cikampek pada saat itu. Itu di tol, lah ini dijalan biasa. Sepanjang apa macetnya. Dari sejarah itu, dapat disimpulkan proses pelebaran jalan akan memperparah kemacetan. Balik ke tol, setelah menjadi 4 jalur apakah macet terurai? engga tuh, tetap aja macet. Seiring pertumbuhan jalan yang lebar, pertumbuhan jumlah kendaraan juga meningkat dari waktu ke waktu. Dari pemikiran inilah simpulan gw lahir ttg pelebaran jalan bukanlah prioritas utama. Namun jalan itu sendiri juga punya kelemahan dan ketergantungan yg terkait akan kerusakan jalan. Walaupun jalan tsb menggunakan aspal kualitas no 1 juga ga akan efektif, Betul penyebab no 1 jalan rusak adalah penyebab yg sama yg membuat km 91 – 92 tol cipularang amblas yaitu: air. Selain penyebab jalan rusak, air jg penyebab kemacetan semakin parah (coba kenapa Jakarta lebih macet pada saat hujan, ya jelaslah genangan air). Kita tahan dulu ttg penyelesaian masalah air. Manajerial air nanti gw tuliskan di posting jejak ide lain (hoho banyak nih yang mw gw drop ide2 useless dikepala gw). Yg jelas air termasuk simpulan hal penyebab kemacetan.

Lampu dan Rambu Lalu Lintas

Uhh ini mah staging akhir dimana semua aspek yg terkait kemacetan telah diselesaikan. Detil dan mendalam pembahasan ini. Staging ini mencakup monitoring dan continuity lalu lintas. Untuk gambaran saja, lampu lalu lintas tu juga penyebab kemacetan, Seharusnya sifatnya dinamis karena jika lampu yg hijauny terlalu cepat dpt membuat macet panjang dijalur tersebut. Lampu yg hijaunya kelamaan jg dpt menyebabkan kemacetan dijalur lain, semua lampu lalu lintas terkait area yg macet memiliki efek domino, sehingga butuh manajerial lampu lalu lintas yg dinamis sesuai tingkat kemacetan di area tertentu. Perkembangan lebih lanjut lampu lalu lintas adalah dapat secara otomatis menyesuaikan kondisi2 jalan (terkait ama expert system sh). Manajerial lampu lalu lintas ada kaitanny dengan si TMC (traffic monitoring center) yg udh ada sekarang (yg nurut gw ga maksimal, layarnya gede2, area scope-nya luas, tapi cuma bisa diplototin aja tanpa ada interaksi otomatisasi dengan sistem untuk mengurai kemacetan. ohh amatirannyaa..). Intinya untuk staging ini mengupas backbone dalam traffic yg tak lain dan tak bukan adalah Dunia Teknologi (IT). Tunggu postingannya yaaa (pasti bakal terpukau saat membacanya.. #lebay). Hahaha…

Kendaraan Pribadi

Kalo bahas ini, hehehe sebenernya ada satu hal yg pengen gw sampaikan. maaf ya rada kontroversi, ga maksud nyolot cuma bentuk pengekspresian menyinggung bahasan mengenai kendaraan pribadi: “siapa sh yg tolol bgt berpikir menaikan pajak kendaraan akan membuat pengurangan kemacetan!?!”. Menaikan pajak udah dilakukan, apakah kemacetan berkurang? Engga tuh. Makany gw taruh kata tolol disitu. Kan ada kredit, kemudahan kepemilikan kendaraan pribadi dengan kredit membuat kendaraan mahal dapat dijangkau. Bank umumnya ngasih pinjaman sampai 5 tahun, tp pengkreditan diluar bank dapat mengasih pinjaman sampai >10 tahun (pengalaman y bear?). Yang salah siapa? Nurut gw ga ada yg salah (yg tolol ada, tuh yg naikan pajak kendaraan). Kenapa? Kredit kendaraan pribadi nurut gw melibatkan 3 pihak terkait langsung yaitu pembeli, penjual dan penyedia kredit. Coba aja salah satu dr ketiga itu ga ada, bs jadi ga beli mobilnya. Pembeli disini artinya orang yg mw membeli kendaraan pribadi. Penjual yg menjual kendaraan (dealer), penyedia kredit bisa berbentuk bank ataupun non-bank. Selain pembeli, semua (pemberi kredit dan penjual) punya saingan masing2. Makanya kenapa pembelian mobil harganya variatif dan relatif terjangkau. Krn karakteristik orang indo suka membandingkan dahulu lalu membeli. Ujung2nya kompetisi sih. Bagaimana mereka ttp exist dipersaingan ketat ini. Sah sah aj sh nurut gw.

Terus kalo orang ga kredit kendaraan, penjual dan pengkreditan ga jalan donk. selama kajiannya dalam ruang lingkup pembelian kendaraan pribadi dengan kredit jawabnya iya karena setiap entitas tsb masuk ke dead cycle. Efeknya sh kasian para pegawainya. PHK paling. Walau ketergantungan kita akan impor jadi berkurang sehingga rupiah menguat. Lhoo kok melebar ke inflasi. Hal ini tentu sangat berbeda jika membeli dengan dana tunai, yang menurut gw ga banyak orang bisa beli mobil cash. Biaya sehari2 aja ngepas mau beli cash gimana (belum lagi kebutuhan lain seperti rumah, biaya pendidikan, dsb). Solusinya kl nurut gw bukan menaikan harga pajak kendaraan, tapi umur kendaraan yg boleh beroperasi alias dibatasi. Dengan demikian harga kendaraan lebih murah dr biasanya (10 tahun harus hancur), setiap pembeli tetap bisa membeli kendaraan pribadi per 10 tahun dengan harga yang relatif terjangkau sehingga lifecycle bisnis otomatif tetap berlanjut. Dan hal ini juga sudah diterapkan pada negara-negara tetangga. Nambah macet donk? Eitss ini terkait ama culture orang kita. Yang gw jamin bisa diubah. Umur kendaraan dibatasi ini ga harus skala nasional kok. Hanya kota2 tertentu aj yg padat penduduk. Walaupun ada plus minus-nya saat keseragaman nasional tidak dilakukan.

Entitas Lain

Entitas lain disini maksudnya semua entitas yg kasat mata ga terkait dengan kemacetan padahal realitanya juga faktor penyebab kemacetan. Jujur gw aja ga kepikiran ini pada awalnya. Sampai seorang dosen gw yaitu Pak Husni (haloo pak, maaf tesis saya ga jadi mengenai manajerial lalu lintas udh saya tweet di twitter saya) menyebutkan pemikirannya. yg dimaksud pak Husni dengan entitas lain adalah Pedagang kaki lima, pengemis, penjual koran, becak, penyebrang jalan yg bukan dilampu merah atau dijembatan penyebrangan, parkiran liar, dsb. Hal – hal tersebut yang ga pernah kepikiran ama gw yang fokus hanya terhadap penghambat besar saja. Namun melupakan hal – hal kecil yang dalam skala besar dapat menghambat jalanan. Pernah ga mengalami kejadian dengan entitas lain ini? Pernah lewat pasar ga? atau sekolahan pas pagi atau jam pulang sekolah? Macet ga? Pastinya macet😆 . Emang dosen gelar S3 yg selalu mencari esensi dlm suatu permasalahan itu pemikirannya ga normal (tip my hat for you sir!). Btw nyimpang bentar, dosen ini yg pernah ngasih masukan saat ditanya pemerintah kota Jakarta menanggapi permasalah kemacetan terkait kasus jika terjadi kebakaran. “Kan mobil pemadam ga bisa lewat karena macet” merupakan hal yang menjadi sorotan utama. Dari semua solusi yg diberikan oleh setiap orang diruangan itu tidak ada solusi yg bisa diterima dan diputuskan dengan baik. Dan akhirnya si bapak Husni ini menyampaikan solusi terakhirnya pada waktu itu: Ya sudah, karena kemacetan antara jam 4pm sampai jam 8pm. Bikin aja perda yg menyebutkan ‘Dilarang terjadi kebakaran antara jam 4 sampai jam 8’. Diantara semua orang yg tertawa saat itu, mengingat krn tdk ada solusi lain (Saat itu Jejak Ide belum muncul makanya belum ada solusi😆 ), terlepas jika diimplementasikan bakal ngaco dan ga bener, nurut gw ide tsb Logis abiss !! *emg ga normal pemikiran tu dosen bs mikir ampe kesitu*. Back to earth, solusi untuk entitas lain ini menyinggung ke SDM yg berkualitas. Ada sh pembahasanny di otak gw tapi nanti aja ya gw bahas di sesi lain jejak ide (klo gw ga males tu jg, luas bgt soalnya. Males ngetik). Walau entitas lain ini bukanlah penyebab kemacetan utama, hanya tambahan efek kecil kepada kemacetan. Jd hanya untuk diingat saja dan ga akan terkait pembahasan kemacetan (ibarat menyembuhkan penyakit dengan obat, apakah semua virusnya mati? engga donk. pasti ada puing2 tersisa lah yang ga berbahaya dan dibiarkan saja didalam tubuh).

Busett panjang juga yaa, ini tuh cuma analisis awal aj padahal dan ini cuma global view dari kemacetan. Fyi gw ngetik ini draft ide di Blackberry lhoo.. Keram jempol guee. Anyhoo, dapat kita simpulkan :

  • Penyebab kemacetan utama adalah: pengguna jalan, air terkait infrastruktur jalan, rambu dan lampu lalu lintas.
  • Penyebab kemacetan tambahan adalah: kemudahan kepemilikan kendaraan bermotor, entitas lainnya.

Solusinya setiap permasalahan akan ditampilkan ke dalam sub2 posting berikutnya terkait kemacetan yaitu:

  • Untuk masalah pengguna jalan : Transportasi Umum.
  • Untuk masalah infrastruktur jalan : Jalan Raya
  • Untuk masalah kepemilikan kendaraan bermotor : Kendaraan Pribadi.
  • Untuk masalah dan manajemen lalu lintas : SILL (Sistem Informasi Lalu Lintas) level 1, level 2, level 3.
  • Untuk masalah air, tu kajiannya sendiri dan bukanlah sub bagian pembahasan kemacetan. Melainkan kemacetan adalah sub bagian pembahasan dari judul (coming soon) : Water Resource Engineering.
  • Untuk masalah entitas lain jg bukan termasuk pembahasan kemacetan melainkan kemacetan adalah sub bagian pembahasan dari judul (entah kapan gw ketik, ga janji yaa bakal gw tulis selama gw hidup) : SDM Berkualitas.
  • Belajar dari pengalaman adalah hal yang penting, oleh karena itu butuh studi kasus mengenai kemacetan yang sudah diterapkan dan berhasil. Pembahasan Kemacetan akan ditutup dengan post terakhir nanti yaitu : Best Practice.

Jadi tunggu posting gw berikutnya yaa.. bakal lebih dalam membahas solusi dari kemacetan. Btw pegel jempol obatnya apa sh?!

 

 

1 November 2011 - Posted by | Jejak Ide

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: