Jejak Bruang

Ikuti kemana ku melangkah

Prioritas Pertama Pada Bencana Alam

Posting ini berada sepenuhnya dibawah dan merupakan bagian dari kategori Jejak Ide. Dengan membaca, mendengar atau mengetahui isi posting dibawah ini berarti anda dengan sadar telah menyetujui Term and Condition Jejak Ide. Jika anda tidak menyetujui Term and Condition Jejak Ide silahkan Jangan dibaca/diketahui/didengar😉.

Prioritas Pertama Pada Bencana Alam

Kita hidup di Negeri 5 menara (lhoo) maksudny di Indonesia (ohh). Setiap tahunnya negeri tercinta kita ini selalu ditimpa musibah alam. Entah itu Tsunami, Gempa, Gunung Meletus, dll. Sering kali saat bencana datang pemberitaannya langsung meluas secara nasional. Dan setiap kali gw liat/baca berita selalu ada satu hal yang bikin gw miris : Prioritas pertama pada bencana alam (PPPBA) adalah bahan makanan.

Nurut kebanyakan orang apa yang gw pikir salah itu adalah benar. Tapi nurut gw, makanan dan pakaian adalah Pertolongan Pertama bukan prioritas utama. Tentunya statement gw itu membuat pertanyaan betul?! (pedee emg bakal ad yg mw nanya) Menurut gw prioritas utama pada bencana alam adalah Electricity alias Listrik. “kan tinggal tarik kabel aja dr line yang masih berfungsi dan jadi deh listriknya” itulah sanggahan pertama gw saat gw memikirkan PPPBA. Namun yang namanya bencana alam kita berbicara pada the worst case scenario. Contohnya saja saat kita memikirkan bencana apa yg mungkin terjadi saat kita membuat server bukanlah kendala Lan card rusak, hardisk baret, listrik padam. Yang dibicarakan adalah kemungkinan jika tempat server itu rusak, dalam artian bangunannya, dalam artian kotanya. Kita berpikir luas. Dari analogi itulah gw berpikir secara luas termasuk the worst case-nya. Saat tsunami melanda atau gunung meletus dimana satu2nya cara untuk mengalirkan listrik kembali adalah harus menarik kabel sejauh >100 km. Permasalahan juga timbul jika lokasi bencana terletak didataran tinggi dan memerlukan waktu lama untuk mendatangkan alat berat.

Sejauh ini gw selalu liat diperlukan waktu sekitar 2 – 4 minggu untuk membangun kembali infrastruktur sementara saat terjadi bencana. Saat tsunami aceh 2004 bokap gw dulu terjun langsung ke lapangan untuk manajemen recovery site sarana telekomunikasi (btw gw masih simpen foto2 yg dulu bokap gw ambil langsung, 2 hari setelah kejadian dengan camdig-nya. dan tu foto2 adalah gambaran nyata yang ga pernah ditampilkan oleh media apapun. Dan ampe detik ini juga gw masih mual klo inget tu foto2). Balik ke tulisan ga jelas ini, 2 – 4 minggu mungkin menurut kita waktu yang ga terlalu lama. Tapi coba deh nunggu tanpa atap, air, makanan, tempat tinggal, tanpa baju hangat, tanpa rokok. Sejam aja kayany udah mau berakhir dunia. Yup yang gw coba tuangkan dalam buang ide kali ini adalah electricity yang dapat langsung digunakan dalam sekejab. Ga perlu tarik kabel jauh2, ga perlu harus memikirkan rancangan arah kabel sementar, hal yang sangat gw harapkan dari PLN yaitu :

:: Solar Power Emergency Mobile ::

Hehehe I just made that name up Smile with tongue out kok namanya kaya junk email atau kaya nama sesuatu hal cuma cowok yg punya, intinya listrik dihasilkan dari tenaga matahari (solar cell – bukan solar bahan bakar) dengan menggunakan media kendaraan yang dapat bergerak. Hal ini ga hanya terbatas pada matahari saja, bisa saja sumber energi lain yang bisa menjadi listrik (mungkin sekitar situ ada sungai atau air terjun atau uranium). Namun untuk pembahasan kali ini contohnya matahari. Jadi saat terjadi bencana, unit gerak cepat ini (lhaa tadi namanya Solar Power Emergency Mobile – SPEM), yaa itu maksud gw, bisa langsung bergerak menuju tempat bencana. Mungkin bersama PMI atau badan pertolongan lainnya menentukan site tempat penampungan dapat dibuat membentuk suatu cluster. Ditengah2ny lah si SPEM ini deploy. Terus manfaatnya apa? nahh untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita tinjau 2 kasus. tanpa dan dengan adanya si SPEM ini.

Kasus A : Tanpa SPEM

Artinya disini pertolongan pertama yaitu adanya tenda2 darurat, makanan, pakaian, obat2an. Kebutuhan makanan akan tinggi, karena tidak setiap orang mendapatkan selimut atau pakaian hangat darurat. Solusi alternatif yaitu membuat api unggun agar bisa tetap hangat disekitar dan memberikan pelita dimalam hari (pelitaaa.. hahaha gw udah jarang banget nemu blog yang menulis kata pelita kecuali blog berisi kumpulan puisi). Air minum ditempatkan di jerigen2 dibeberapa tempat dan dijatah agar bisa mencukupi kebutuhan air minum hariannya. Higienis para pengungsi juga tidak dapat dijamin yang menyebabkan kemungkinan timbulnya beberapa penyakit lainnya. Para korban yang mengalami luka serius mungkin tidak dapat diselamatkan karena keterbatas peralatan medis yang menyebabkan harus membawanya ke rumah sakit yg diwilayah atau kota lain.

Kasus B : Dengan SPEM

Mobil

SPEM deploy di site yang sesuai (persis lah kaya mothership di game RTS). Memasang beberapa solar panel disekitar kendaraan. Disekitarnya tenda2 pengungsi pun didirikan. Saat listrik mengalir hal2 yang bisa dilakukan adalah:

  1. Pengeboran tanah untuk mendapatkan air guna kebutuhan sehari2.
  2. Listrik untuk menerangi tenda2 saat malam hari dan juga menghidupkan pemanas didalam tenda.
  3. Peralatan medis yg membutuhkan listrik (alat2 Operation Room) dapat digunakan sehingga akan banyak nyawa yang tertolong.
  4. Komunikasi darurat bisa dilakukan oleh para pengungsi untuk dapat segera memberikan kabar kepada keluarganya diluar daerah dan sekaligus dapat membantu mengurangi rasa “was was” orang2 yang menantikan kabar dr keluarganya yang ditimpa bencana.
  5. Pompa air dapat digunakan sehingga air dapat ditarik dari tanah dan didorong ke tenda medis, dapur, dan beberapa titik keran. Pompa air juga dapat digunakan ke tenda yang khusus dibangun untuk mandi.
  6. Untuk bencana didaerah pegunungan solar cell juga dapat membantu dalam memanaskan air sehingga air hangat untuk mandi, mencuci, dsb dapat dipenuhi.
  7. Elektronik dapat berjalan normal seperti tv untuk memberikan informasi mengenai respon nasional kepada para pengungsi.
  8. Bisa ngidupin lampu batman klo bencana alam terjadi di Gotham City
  9. Dan hal2 lain yang gw jamin akan sangat banyak membantu kehadiran SPEM ini dibandingkan jika tidak ada listrik.

Model dan desain serta arsitektur SPEM ini yang jelas gw juga ga tau (kn cuma ide) mungkin para electricity engineer dapat mewujudkan ide SPEM ini (uhuk, ngeliat labtek VI – elektro) menjadi lebih baik. Dan gw mengharapkan bukan cuma PLN saja yang membuat emergency mobile namun juga para pihak swasta juga terlibat seperti telekomunikasi, air bersih, dll. Kedepannya harapan gw SPEM ini bisa terwujud dan bisa di-‘terjunpayung’-kan dari pesawat cargo sehingga recovery site akan lebih cepat (widihh bakal keren banget klo bisa gitu). Akhir kata, tidak satupun dari mereka mau ditimpa musibah bencana alam. Mereka yang kehilangan tempat tinggal, mereka yang kehilangan anggota keluarganya menahan luka mendalam dihatinya. Mungkin ada salah satu dari mereka kmrn malam, makan malam dan ngumpul bersama keluarganya namun malam ini hanya dia sendiri duduk menahan perih. Mereka telah ditimpa cobaan yang berat, seharusnya jangan ditambah lagi cobaan mereka dengan membiarkan mereka mendapatkan tempat mengungsi yang tidak layak.

Let us help heal their inside pain, from the ‘outside’ healing.

PLN

23 July 2011 - Posted by | Jejak Ide

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s