Jejak Bruang

Ikuti kemana ku melangkah

SIM Keliling

Hari ini pas siang bolong gw lewat mau berangkat dari rumah gw yg di antapani, ada satu hal yang menarik perhatian gw saat melewati Mall Lucky Square Bandung. Ada mobil SIM keliling. Dan entah kenapa tangan gw reflek langsung belok kedalam mall tersebut. Lalu gw parkir dan langsung menuju tempat tersebut. Lalu gw mendatangi tempat pendaftaran dan menanyakan syarat untuk memperpanjang. Lalu bapak yang ada dimeja pendaftaran memberitahu gw :

1. Fotocopy KTP yang dikeluarkan di Kotamadya Bandung

2. SIM yang telah kadaluarsa maksimal satu tahun lebih, dan SIM tersebut dikeluarkan di Bandung (bukan SIM kota lain).

Hoooo.. sahut gw yg langsung bejalan mencari fotocopy terdekat. Yup SIM gw itu sebenernya belum expire. Bakal mati pas ultah gw ntar agustus. Cuma heii udahlahh.. kapan lagi coba gw ada kesempatan untuk perpanjang SIM. Mumpung gw lg free juga. Lagian feeling gw bilang gw harus perpanjang SIM euy walau belum habis waktu sepenuhnya. Kenapa? entahlah.. sampai sekarang ga ada penjelasan logis gw tentang indera laba2 bruang gw ini. Lalu gw fotocopy KTP gw dan SIM lama gw, buat apa SIM lama di fotocopy juga? Arsip pribadi aja buat gw. Setelah itu gw balik kesana dan diminta untuk mengisi formulir (sebelumnya dicek dulu KTP gw dan SIM gw apakah bener2 dikeluarkan di kota Bandung). Setelah mengisi lengkap gw balik ke meja tersebut dan diminta tanda tangan di kotak item (itu buat di scan masuk k komputer, yang ada kertas putih). Lalu gw menunggu untuk dipanggil foto. Oia ngomongin SIM sebenernya gw sempat flashback balik lahh tentang SIM gw ini. Dulu gw bikin tahun 2006, dan siapa yang sangka gw melalui hal2 seru sampai tahun 2011 ini. Klo gw liat pas gw bikin SIM ditahun 2006 silam tersebut kn gw msh jomblo, dan saat gw perpanjang lagi yaitu sekarang, gw udah nikah… Heheheheh beluuumm gw belum nikah. Mungkin ini kalimat bakal gw ucapin saat gw perpanjang SIM lagi tahun 2016. Amiiinn… Anyhoo.. balik ke cerita nyok.

Selama gw nunggu ada beberapa hal yang menarik terjadi. Kebanyakan orang2 disitu saat mau perpanjang SIM berasal dari daerah/kota diluar kota Bandung. Ada bapak2 yang ‘semi-ngamuk’ krn ga bs diproses perpanjangan SIMny krn bapak tersebut berasal dari luar kota. “Tidak ada pengumuman yang jelas disini” sahut si bapak menang. Dan dengan tenang petugas mempersilahkan bapak tersebut untuk melihat pengumuman yang tertempel tepat disebelah pintu masuk yang menjelaskan menurut gw sangat jelas tertulis “Dikeluarkan di kota BANDUNG”. Lalu ada juga yang paling apes, si mas2 yang datang untuk perpanjang SIM tapi tidak bisa dilakukan karena disebutkan bahwa KTP dia udah habis tanggal 17 kemarin. Yup apes banget selisih satu hari kmrn dan dia ga bs memperpanjang SIM hari ini. Sampai ke ibu2 yang datang dengan surat kehilangan atas SIM nya. Tapi satu hal yang terjadi di semua orang termasuk gw sendiri adalah menunggu untuk dipanggil foto itu sangaaaaat lamaaaaaaaaaaa. Sempat gw pengen cari minum dulu tapi takutnya banyak orang yang meninggalkan tempat tsb terlebih dahulu alias di skip lalu entah mungkin tiba2 nama gw dipanggil dan gw sedang membayar minuman. Biarlah.. haus sejam dua jam kn ga bakal bikin gw dead toh.

Hari ini sang mentari terik sekali, bahkan tenda yg nempel dengan mobil SIM keliling tersebut tidak mampu menangkis sinar yang datang dari arah samping. Punggung gw kebakar, dan gw berandai2 jika saja punggung gw ini adalah solar cell gw bs idup 4 hari tanpa makan krn kelebihan energi. Ohh mentari.. oh mentari. Tapi yang lebih gw sayangkan kenapa ni mobil parkir menghadap mentari, padahal klo parkir lebih mundur dikit aja, itu tepat disamping bangunan mall lucky square yang membantu menutup dasyhatny mentari siang bolong ini. Yang gw bodor ada satu bapak2 yang bolak balik menanyakan kapan dy dipanggil. Padahal klo si bapak itu sadar ada gw yang udah daritadi ada disini sebelum dy datang dan masih belum dipanggil2 juga. Sesosok cowo gede duduk dibangku kecil didepan meja pendaftaran.. how even he’s not noticing me sitting all day in here. Lalu gw menunggu, menunggu dan menunggu. Sambil menunggu gw melihat si petugas menyusun formulir pendaftaran, kertas yang ada tulisan SIM KELILING, faktur, kertas yang ada logo SATLANTAS-nya. Sambil menjepret dengan stapler (ehh ada satu stapler yang gw demen bgt, bentuknya kaya tang gede dan bisa nge staples dua SIM saling numpuk beserta kertas2 formulir tersebut) dan menyusunnya lalu memberi nomer urut pendaftaran (btw gw tdny niat mw ambil salah satu tu stapler ajib, cuma krn yg punya Polisi, gw ga mw ambil resiko n cari masalah ahh😆 ). Ngomong2 ttg no pendaftaran, setiap orang tau no pendaftarannya. Tapi gw engga, jd gw dpt formulir yang ga ada tulisan urutan pendaftaran berapa. Jadi klo ada yang ngomong “masih no 72”, gw ga ada ide apakah formulir gw udah dekat2 angka tsb atau malah masih jauh. Kembali gw cuma bersabar aja. Dan akhirnya setelah gw nunggu 2,5 jam nama gw dipanggil juga (itu aja krn banyaaaak banget nama yang di skip alias orangnya ga ada, coba klo mereka ada bisa 4 jam gw disini).

Gw masuk kedalam mobil SIM tersebut, dan adem sekali disini. Sempat sh gw foto sekilas cuma goyang euy motonya. Gw liat sekeliling takjub bagaimana sebuah mobil – katakanlah mobil box gede, disulap menjadi kantor untuk mengurus SIM. Disini ada 4 bangku untuk menunggu, 1 bangku untuk pengambilan gambar (foto), 1 bangku untuk petugas disitu. Satu meja kecil tempat numpuk perkakas, satu meja komputer, satu meja panjang yang ada tv, rak2 kecil daaann.. AC ruangan (bukan AC mobil). Yup klo gw liat sekilas tu AC 1/2 PK dehh (Nice..). Oia gw dipanggil bareng rombongan, jd perkloter 5 orang yang langsung masuk kedalam mobil tsb. Daan.. sialnya gw yang dipanggil terakhir. Yaahh gpplah ketimbang nunggu diluar diserang dengan sinar mentari. Setelah dikoreksi ulang data2nya dan difoto serta diambil sidik jari. Tinggal nunggu di-print dan jadi dehh SIMnya. Dan gw nunggu 5 orang ini beres. dan tinggal gw sendirilah didalam mobil tersebut dengan petugas. Sambil nunggu nge-print, bapak2 yg ga sabaran (yg gw ceritain diatas) kembali masuk kedalam untuk keenam kalinya menanyakan kapan dia dipanggil. Setelah gw ambil SIM gw yang baru, gw pun meninggalkan mobil SIM Keliling tersebut sambil mengucapkan : “Demn.. gw keliatan tua banget di ni foto”.

 

———————————————————– Buang Ide yuuk —————————————————————————————-

Jadi selama gw nunggu bengong mending gw analisis permasalahan kenapa pengurusan SIM ini lamaa sekali. Indikatornya? banyak yang meninggalkan tempat tersebut terlebih dahulu, banyak yg ga sabaran menunggu, banyak yang menanyakan kapan akan dipanggil. Dan terlebih banyak yang mulai kepikiran: jika saja punggungnya adalah solar cell. Yup gw coba identifikasi dan merumuskan masalahnya yaitu:

1. Masalah utama adalah printer id-nya yang lemot alias lelet banget ngeprintnya, gw jamin tu printer ada delay sekitar semenit sebelum akhirnya nge-print. Dan membutuhkan 3 menit untuk nge-print sampai selesai. Artinya harus nunggu 4 menit tiap SIM untuk dicetak.

2. Komputer. Komputer yang ada didalamnya ga bs multitasking. Mann.. ini jaman udah processor lari di brp Ghz dan bisa simultan tapi kenapa setiap nge-print, petugas harus menunggu terlebih dahulu setiap SIM selesai di Print lalu bisa kembali digunakan. Artinya bukan saja orang yg menunggu 4 menit untuk SIMny selesai di print tapi juga si komputer juga harus nunggu 4 menit.

3. Pengecekan ulang. Sang petugas mengecek ulang semua inputan ke komputer dan menanyakan seperti nama, alamat, pekerjaan, dan informasi lain yg harus diulang (seperti ada salah seorang bapak yang mau “downgrade” dari SIM B1). Dan ini juga makan waktu 1 menit.

4. Ga ada display antrian. Artinya setiap orang ga tau sekarang sudah no antrian ke brp. Makany setiap ditanya, petugas didepan hanya membilang “coba tanya didalam langsung” yang mengakibatkan pintu masuk mobil tersebut buka tutup buka tutup. kasihan kan si AC 1/2 PK, harus mendinginkan setiap waktu.

5. Paper. Yup inilah yang gw lihat disetiap urusan ijin/surat dengan kepolisan. Banyak sekali kertas yang digunakan dan menumpuk.

Solusi yang gw pikirkan (ide gw sendiri lhoo,, original recepies) :

Gw ga tau alias ga pernah megang ID printer, jd gw ga tau apakah emang semua ID printer berjalan dengan waktu maksimal 4 menit setelah iniasialisasi perintah “ngeprint” dari komputer ke printer. Tapiii yang bikin gw panas adalah kenapa tu komputer ga bisa multitasking. Walau monitornya adalah LCD 19”, keyboard gede alias bukan keyboard asal2an tapi kenapaa.. ohh kenapa.. ga bisa multitasking alias sambil mengisi informasi ke komputer. Biarin dehh casing tu cpu casing ATX Simbadda tahun 2003 silam tapi isinya mbo ya jangan se-oldskul casing-nya toh. “Garang” dikit kenapa. Dan terlebih aplikasi yang dipakai untuk membuat SIM tersebut menurut/feeling/kira2 gw adalah aplikasi yang dibuat menggunakan Python. Jadi untuk komputer gw punya dua asumsi, komputernya yang jadul abis atau aplikasinya yang seharusnya udah diganti dengan yang baru.

Formulir dan pengecekan ulang, dua hal ini saling terkait klo nurut gw. Krn orang mengisi lembar pendaftaran dan setelah itu dicek ulang oleh petugas, lalu di-input ke komputer. 3 langkah tersebut menurut gw bisa disederhanakan jika pengisian/formulir tersebut menjadi semacam LJK (lembar jawaban komputer), yup nurut gw klo pengisian menggunakan lembar komputer alias saat orang mengisi nama, alamat dll menggunakan pensil 2B jauh lebih efektif dan akurat dibanding mengisi dengan pulpen. Ga semua tulisan orang bisa sebagus font di Microsoft Word (gw aja mengakui itu) jadi ketimbang ada ambigu dan salah baca mending diganti jadi lembar komputer. Menurut gw lebih baik “repot” dalam mengisi formulir dibanding harus menunggu lama. Dengan demikian saat orang telah selesai mengisi lembar komputer formulir tersebut. Petugas hanya perlu men-scan lembar tersebut, lalu memanggil berdasarkan urutan, mengambil sidik jari dan foto, mencetak sim tersebut. Dan saat mencetak petugas bisa langsung mengambil sidik jari dan foto nomer urut setelahnya (multitasking) sehingga nurut gw 4 menit itu “engga ada” dan pasti jauh lebih cepat. Dan gw jamin deh siapa sh yang suka berlama2 kerja berulang kali. Mending kerja berulang kali tapi cepat selesai. Teknologi mutakhir lah jawabannya.

Tuk display antrian, tu sebaiknya diadakan. Alias ditempel dimobil luar untuk menunjukan antrian yang keberapa sekarang (kaya yang di bank2 itu), dan sebaiknya pengatur nomer antrian tersebut terhubung dengan komputer. Jadi saat petugas menekan tombol “next” alias nomer antrian berikutnya tuk diproses diaplikasi utama, ada background application yang menambahkan nomer antrian secara otomatis sehingga petugas ga perlu menekan dua kali dikomputer dan ditombol display antrian. Minimaliasi human error juga misalnya lupa menambahkan nomer antrian jika dilakukan secara manual (terpisah dengan komputer utama).

Solusi tambahan (tentu saja, original recepies dr gw jugaa) :

Ampe sekarang yang gw heran kenapa penyimpanan arsip bener2 menyimpan arsip dalam bentuk fisik. Misalnya SAMSAT kota Bandung menginginkan tes bencana apa saja yang mungkin terjadi, hal pertama yang bakal gw jawab adalah : “Klo ruang arsip dibakar apa yang terjadi?”. Ruang arsip yang terletak di basement SAMSAT kota Bandung itu berisi dengan rak2 penuh arsip kepemilikan kendaraan bermotor. Dan itu asli ga ada copy-ny ditempat lain. Dan yang bikin mirisnya adalah kertas punya umur dan rentan akan api dan juga kelembapan. Siapa yang jamin semua dokumen tersebut ga akan lapuk seiring waktu berjalan. Setiap gw ambil arsip (‘tarik berkas’ bahasa petugasnya) gw selalu mencium bau lembab. ZZzz,,, implementasi ERP di-level ini menurut gw ga pas juga, lebih mending implementasi datawarehouse yang baik. Pake Oracle mungkin. Semenjak disini hanya untuk nyimpan data saja dan ga perlu tarik berkas saat membutuhkan informasi. Cukup hanya tekan enter dan keluar deh semuanya.

Entahlah setiap gw liat kemacetan disetiap jalan gw hanya berpikir berapa juta berkas yang SATLANTAS miliki. Coba aja setiap kota memiliki satu datacenter yang membentuk SAN (Storage Area Network) dan mirror kesana sini sehingga klo terjadi “apa2” yang ga diinginkan semua petugas bisa tetap “tenang”. Lebih keren lagi klo bisa implentasi teknologi “Cloud” disini. Udah ga cocok SATLANTAS menyimpan arsip fisik, seharusnya sudah waktunya migrasi besar2an seperti yang dilakukan oleh negara2 maju : e-paper. Gpp klo masih harus pake kertas saat pendaftaran tapi hanya untuk mendaftar saja, penyimpanan arsip harusnya sudah berbentuk digitall. Klo backbone-nya udah bener, tinggal ke end-user nya. Adanya koneksi setiap mobil SIM Keliling ke datacenter tersebut. Harusnya diatap mobil SIM Keliling ini ada parabola yang mengirimkan dan menerima data dari dan ke datacenter. Kalo perlu pake parabola ‘garang’ kaya yang dipunya stasiun tv swasta. Itu tuh parabola yang nempel sendiri dan gedenya minta ampun, kadang gw suka mikir tu parabola kayanya bisa inisialisasi koordinat peluncuran nuklir krn bentuknya yang garang abiez.

Klo udah seperti itu, gw jamin deh setiap orang dari kota manapun bisa perpanjang SIM dikota berbeda (bukan dikota tempat SIM dikeluarkan). Karena semua berkas terkoneksi dan ga ada yang duplikasi. Dan ga ada rasa cape nunggu atau kecewa baik dari sisi orang, dan ga ada rasa cape ‘cape’ dari sisi petugas krn pekerjaannya yang berulang harus validasi, stempel OK, pengisian lembar oleh petugas, dll. Lagian namanya kan SIM Keliling atau bahasa asingnya : Mobile. Harusny bisa memfasilitasi dengan mudah dan maksimal walau bentuknya mobile. Klo skrg kan namanya ‘SIM Lokal Keliling sana sini nunggu dipanggil’, jauh dari nama sebenernya ‘SIM Keliling’. Dan mobile identik dengan ‘mudah’ dan ‘cepat’. Itukan alasan kenapa hampir semua orang di indo menggunakan smartphone Winking smile .

Oia, sebenerny klo di Bandung perpanjangan SIM bisa dilakukan di BTC, cumaa gw pengen tau rasanya menggunakan layanan SIM Keliling. Dan di BTC itu ada 3 meja komputer untuk nge-handle pemotretan dan sidik jari. Yaah walaupun gw nunggu hampir 3 jam cuma toh ini gw lakukan 5 tahun sekali. Moga2 aja 5 tahun kemudian ide gw ini bisa terealisasi (Semoga ada bapak/ibu dari SAMSAT yang baca blog gw ini dan terinspirasi tuk melakukan perubahan). Sisi lain dari pembuatan sim keliling ini, gw dapat informasi baru… Dari dulu gw pengen tau, misalnya gw pengen beli ‘ID blank’ tuk bs diprint tu harus gw cari dimana tu IDnya. Dan dari SIM Keliling ini gw tau informasinya. Namanya datacard. Koq bs tau? soalnya para petugas disitu numpukin kotak2 yang ada url website-nya ditepi kotaknya. Tepat disebelah si AC 1/2 PK tersebut Klo udah tau gini, gw bisa bikin ID FBI atau CIA atau DEA nihh:mrgreen: .

18 June 2011 - Posted by | Jejak Harian

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s