Jejak Bruang

Ikuti kemana ku melangkah

Standart Chartered Bank

“Sarapan ga ya sarapan ga ya..”
Itulah pertanyaan dikepala gw saat berjalan di mampang prapatan III menuju halte busway. Tergiur bubur kacang ijo plus teh manis anget diwarung mie yang ada disekitar mampang. Ada perasaan pengen mampir dan perasaan untuk tiba tepat waktu sebelum jam 8 pagi. Berkali – kali gw yakinkan diri bahwa roti yang gw bawa ditas itu cukup untuk menggempur hari ini. Namun berkali – kali juga gw ragu dengan roti isi pisang coklat tersebut.

Emang ada apa sh hari ini ampe gw berangkat dari Mampang? Tepat seminggu yang lalu gw ditelp oleh HR dari Standart Chartered Bank untuk mengikuti tes internship (gw jd inget pas jobfair ITB yang lalu gw apply tuk posisi itu). Gw mikirnya bakal dipanggil setahun kemudian (krn niat gw mau tesis), namun siapa yang menyangka gw diminta dateng untuk tes dalam waktu lebih kurang 2 bulan semenjak jobfair ITB. Dan.. karena tesnya jam 8 pagi (ga sopan) artinya gw harus mendarat di jkt sehari sebelum tes tersebut. Yup kemaren sore gw naik travel Transline ke Tendean, dan menginap di Mampang. Gw ga pernah ikutan tes SCB, jd asumsi sementara tesnya sama dengan psikotest. Oia pas ditelp gw diminta untuk bawa kalkulator Scientific, semenjak kalkulator gw jenis itu ilang dikampus, dan saat gw mw minjem ke temen2 gw, hampir semua mengalami nasib serupa “Entahh.. gw simpen dimana y tu kalkultor gw” jadinya gw beli lagi satu kalkultor model gt.

Gw nyampe halte sebelum jam 7 pagi jd gw bayar busway cuma 2rb, di haltenya sendiri ga terlalu rame, yang rame didalam bisnya, Padeet… Mana gw dapat pas diarah AC bis, “Brrr…” bibir gw bergetar krn kedinginan. Karena gw ga pernah naik busway pagi2 dari mampang, jd gw ga tau klo ternyata tu bis koridor 6 bukannya langsung belok ke halte dukuh atas tapi belok ke arah pulo gadung koridor 4 (weeleehh..). Gw liat jam takut2 malah ga ontime nyampe disono, akhirnya gw turun di halte Manggarai. Lalu gw naik bis arah berlawanan dan turun di dukuh atas 2, lalu gw jalan (menelusuri koridor ke halte dukuh atas 1) dan ngambil bis koridor 1 arah Blok M, gw turun di halte karet (tepatnya dibawah flyover) dan berjalan menuju SCB melewati Sampoerna Strategic Square. Gw masih terkagum2 dengan bangunan Sampoerna ini, kl menurut sejarahnya dulu yang mendirikan Sampoerna ini hidup susah, sampai harus bolak balik jualan dikereta api, namun siapa yang nyangka dari usaha dan kerja kerasnya tersebut, dia bisa bangun ni bangunan di Casablanca. klo liat lewat google map, ni area bener2 keliatan dengan jelas dan dapat diidentifikasi dari foto satelit. Ckckckck.. *terkagum2 berharap rumah gw ntar juga bisa keliatan dengan jelas dan luas dr satelit sono*.

Gw masuk gedung SCB dari pintu depan melewati security yang ketat dan gw ketemu dengan kumpulan orang yang sedang menunggu. Gw ke resepsionis dan mendaftarkan nama gw dibuku tamu mereka. Lalu gw dikasih seperti-selotip-warna yang dapat ditempel ke baju, warna orange. (pasti ini untuk penanda bahwa ada rekrutmen di SCB lagian kan masa mau dikasih semua tag “visitor”) lalu kita dibuat group per group sebenernya gw bertanya2 kenapa dibuat per-group, ternyata untuk bisa melewati resepsionis kita harus melewati apa-y-namanya, semacam klo kita mau naik busway, kita dikasih kartu untuk dimasukan ke mesin agar kita bisa lewat. Ato klo ngeliat ditv2, kan kalo mw naik subway (kereta) kita beli tiket dimesin tiket, terus kita masukin tiket tersebut ke mesin, baru kita bisa lewat. Nahh semacam itu namun bukan tiket yang dimasukan melainkan kartu magnetik (jd ditempel nanti kebuka jalannya). waww…. *takjub* bener2 security-nya sangat diperhitungkan. Ternyata kekaguman gw akan kartu magnetik itu bukan hanya disitu aja, setiap karyawan memiliki dua kartu : id card an kartu magnetik tersebut, pantesan dari semua karyawan yang gw liat, dibelakang id cardnya ada magnetic cardnya (selalu dobel). Ternyata itu maksudnya, lalu gw dan yang lain masuk ke lift. Kita diharuskan ke lantai 11 di gedung SCB itu, dan saat orang di grup gw itu menekan tombol lantai 11, tidak ada respon. Dibawah kumpulan tombol lift tersebut ada semacam kotak timbul, dari yang gw ngeh, itu benda sama bentuknya dengan saat kita mau melewati setelah resepsionis. Dan ternyata gw sepemikiran dengan orang yang deket lift, lalu dia tempelkan kartu magnetik tersebut lalu menekan tombol 11 hasilnya : Lampu 11 hidup dan lift berjalan naik.

*Takjub..*, ting lift pun membuka dan ada dua jalan kekiri dan kekanan. kita ambil ke kiri soalnya ada pintu bening dan meja resepsionis. Saat mau membuka pintu, pintu tersebut terkunci, dipinggir pintu ada kotak yang sama dengan yang dilift, berarti harus pake kartu magnetik lagi, dan bener saja pintu terbuka. Untuk pintu gw ga takjub sama sekali, yang membuat gw takjub dari pintu tersebut saat anggota grup gw ada yang nahan buka (jadi ga ditutup kembali) sekitar 30 detik, lalu tiba2 : “TNGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII” nada tinggi berbunyi serta led warna biru diatas pintu kelap kelip dan dalam itungan detik security dilantai tersebut datang ke pintu. *Takjub..*.

“Pintunya ditutup lagi mas” kata security yang mulai mengambil langkah meninggalkan kita semua. Lalu mba yang diresepsionis mempersilahkan kami ke satu ruangan gede berisi bangku yang ada mejanya. Waw.. rapih, dan desain bangkunya bagus sekali, disesuaikan dengan lekuk tulang punggung sehingga tetep tegak nyaman saat duduk dibangku tersebut, bangkunya berwarna hijau (Hijaunya SCB) dengan pinggiran warna hitam. Mejany pun bagus, bahan plastik kuat berwarna hitam lengkap dengan lekukan untuk menaruh satu pensil/pulpen dan satu bolongan bulat untuk meletakan cup/gelas minuman. Nyamaan.. gw kenalan dengan sesama yang ada disana dan betapa terkejutnya ternyata satu ruangan berisi : 1 orang dari Binus, 3 orang dari UI dan sisanya (>50 orang) dari ITB. walahh.. kayanya yang dari ITB digabung semua. sambil nunggu semua peserta naik, kita dipersilahkan jika ingin membuat minuman ada di pantry. Kebanyakan stay dibangku kecuali satu orang yang melintas ruangan melewati pintu keluar menuju pantry yaitu : gw. Ya ya ya cuma gw sendiri yang ga tau malu menuju pantry, mengambil cangkir dan menekan kopi mocha dimesin coffe maker tersebut. Lalu gw duduk dibangku yang disediakan dekat pantry dan menikmati kopi sambil ngecek hp. Beberapa menit kemudian, temen2 yg baru gw kenal didalam juga ikutan ngopi dan kita ngobrol2.

ID Peserta

“Ayoo semua silahkan masuk, tes akan dimulai” dan kita semua pun masuk. Saat semua orang mempersiapkan alat tulis, ternyata ada persentasi perusahaan terlebih dahulu. Ya udah kita semua mendengarkan. Intinya mendengarkan mengenai SCB itu sendiri dan produk utama yang dikenal masyarakat : kartu kredit. Disini ditekankan bahwa bekerja di SCB jika berprestasi tidak akan tetap bekerja disatu kota saja (disini berarti kota Jakarta) melainkan akan pindah2 bukan ke daerah tapi pindah ke negara lain. hahaha.. menarik ya semenjak gw demen jalan2 gw langsung berpikir cocok sekali untuk gw jika ditugaskan diluar NKRI. Selang sejam termasuk ada quiz mengenai SCB dan ada hadiahnya, tiba2 ada orang yang masuk kedalam ruangan berkebangsaan India, beliau duduk tepat disebelahnya sebelah gw, kebetulan sebelah gw itu lagi ke kamar mandi, jd secara ga langsung, dengan selisih satu bangku dengan gw, beliau ada disitu. “Fine, thank you, my name is Taufiq Aribowo and I’m from ITB” yang gw ucapin saat si bapak tersebut menanyakan kabar dan nama gw pake bhs inggris, sembari gw menyodorkan tangan. “It’s pleasure to meet you, Taufiq” sahut beliau tepat sebelum MC menyapa beliau “Good Morning Rames” (hoo.. namanya pak Rames). Usut demi usut pak Rames yang berkebangsaan India tersebut merupakan pimpinan bagian pelatihan GTO (klo ga salah sh kepanjangannya Global Training Officer *CMIIWW*) dan hari ini beliau memberi kata sambutan. Dari kata sambutannya jelas bahwa beliau menekankan kembali berkarir di SCB merupakan langkah yang sangat tepat. Namun beliau menginformasikan bahwa mereka yang direkrut melalui program GTO tersebut, tidak akan bisa masuk ke bidang IT, karena SCB punya headquarters IT sendiri. Salah satunya di Chennai – India (jadi inget game Airline Manager yang ada difacebook gw, ada satu pesawat boeing gw yang mendarat di Chennai). Kata sambutan ditutup dengan sesi pertanyaan, salah satu jawaban beliau yang baik sekali dalam artian ke-komitmen-an dan profesionalitas tinggi saat ada yang bertanya : “Berapa orang yang akan direkrut untuk hari ini”, pak Rames menjawab : “15 orang” dan beliau menambahkan “namun jika tidak ada satupun yang qualified diruangan ini maka tidak akan ada satu orang pun yang akan kami rekrut ke SCB, lebih baik membuka perekrutan kembali dibandingkan memaksakan 15 orang yang tidak bisa apa2″ *Jleebb..* dalam bo.. tiba2 gw kepikiran dulu gw pernah seleksi Schlumberger (SLB) di ITB. Dari 30 orang yang telah masuk ke tahap akhir hanya 1 orang yang dipilih dan masuk ke SLB. perekrutan sebelumnya dari sekitar 65 orang, tidak ada yang masuk satupun. Tu info gw dapat dari kenalan gw tes SLB di ITB yang dy lolos sampai satu tahap akhir, namun gagal diterima.

“Tes-nya akan segera dimulai” sahut MC, dan kami dibagi2 ke kursi kosong dibelakangnya persis seperti kalo mau UTS/UAS (satu bangku dengan jarak yang rada lenggang) dan ternyata ga pake kalkulator (salah informasi yang nelp gw kmrn), tau gini ngapain gw beli kalkulator seharga voucher HP untuk aktif selama 5 bulan kedepan. Tes pun dimulai, pikiran gw ttg buku soal psikotes, lembar pauli dan juga kepribadian musnah sudah saat gw menerima soal. Hanya sekitar beberapa lembar soal yang berisi ttg logika matematika, gambar dimensi dan bahasa inggris. Dan, semua dikerjakan dalam waktu 30 menit (waww..) tes dimulai pukul 11.30 am. “Mulai” dan serentak bunyi kertas yang sedang dibolak balik. Bagian pertama gw cuma ngerjain 20% gw langsung loncat ke bagian dua (takut kehabisan waktu), gambar dimensi menurut gw cukup baik krn otak gw lg fresh dan ga ada masalah memutar-balikan bangunan 3D (rendering-nya lg cepat nih) lalu gw masuk k bahasa inggris. Satu hal yang gw rasa ganjil dites reading ini, adalah soalnya bukan reading biasa, tapi ada logikanya. Pernah ingat ga (kalo SMU mengambil jurusan IPA) ada yang namanya IPA TERPADU. Soalnya sama seperti itu namun lebih metal : berbahasa inggris. Dari soal reading tersebut beberapa esensi soal yg gw analisa : ada menyinggung unsur kima (hahaha.. tabel kumpulan unsur kimia yang legendaris itu sudah lama terlupakan oleh gw), fisika (menyinggung listrik statis), matematika (ada integral, statistik dan peluang/kombinasi). Bolak balik gw liat jam tangan gw ditangan kiri, memastikan semuanya tepat waktu, dan saat gw liat 11.50 tepat dengan teriak panitia “10 menit lagi”, dan semuanya terlihat geber dalam mengerjakan. Gw yang lagi duduk disitu dari awal sudah geber dan overclock otak rate tinggi (model duduk ultimate gw : duduk rada nyamping, tangan kiri diatas meja dan tangan menahan kertas jawaban dengan posisi jam tangan menghadap keatas, dua ballpoint extra di saku baju, dan handuk kecil diatas paha kiri) dari awal mengerjakan muka gw dah keringatan (sekaligus ini adalah bukti klo gw ga cuma keringatan pas lagi makan saja). “SERIUS!!” tatapan gw saat itu. Bolak balik gw lap kening gw dengan handuk dan sekali pit-stop (ganti ballpoint) saat sedang tes. Berkali – kali gw tenangin hati dan pikiran tuk stay focus and sharp thinking. Sampai tiba waktunya : “waktu habis, silahkan dikumpulkan”. Lembar soal dan jawaban dikumpulkan dan kami dipersilahkan mengambil makan siang diluar. Saat orang mulai bubar gw masih terduduk disitu : tangan kanan gw masih bergetar pegal termasuk lengan juga. Gw masih terduduk disitu sekilas mereview semua diotak gw mengenai jawaban gw : yang gw jawab pasti dan yang gw jawab dengan penalaran. Dan mendadak gw terdiam membisu, muncul rasanya kecewa. Tinjauan dari otak gw : gw menjawab lebih banyak menggunakan penalaran. “Mas silahkan keluar” kata panitia tes SCB yang membuyarkan lamunan gw disitu. Dan gw pun keluar, berjalan menunduk, memandang karpet berwarna hijau-nya SCB.

“bear.. gimana td” kata kenalan gw yang ada disitu dan seperti tersadar kembali gw bilang “yaa liat nanti aja” sambil mengambil kotak makanan. Lantai tersebut penuh dengan manusia (yang gw yakin banyakan ITB). Akhirnya kita turun ke cafetaria SCB krn dilantai ini tidak mendapat tempat. “Ting” bunyi pintu lift dan kita semua muncul di lantai 3 gedung SCB. tepat didepan ada ruangan gede dengan pintu kaca luas. Itulah cafetaria (yang tmn2 gw lebih enak bilang : kantin) SCB bernama Oxygen. kita masuk kedalam setelah menempelkan kartu elektronik ke pintu masuk Oxygen. dan kembali gw *takjub..*.

Luass.., berkarpet penuh meja dan bangku unik. kita duduk yang deket tembok dan membuka nasi kotaknya, disitu kita ngobrol banyak seputar bola (yiuu..) Oia ngomongi bola, musim ini SCB resmi menjadi sponsor klub Liverpool FC (jd inget temen gw si dicky yang fans Liverpool). Buktinya didalam kantin tersebut ada satu wall gede bergambar liverpool dan lambang liverpool yang digantungkan banyak dilangit2 kantin. Di kantin ini makanannya juga beragam, dari soto sampai ke yang rada2 western. Disini juga ada tiga komputer yang terkoneksi internet yang bisa diakses gratis. Oia.. kebanyakan yang makan disini bawa bekal sendiri *kagum*, pendapat pribadi sih “formula 1 menggunakan segala sesuatunya yang custom, makany performanya cepat, tinggi, handal. Sama seperti tubuh manusia, makanan yang custom sesuai untuk tubuh sendiri akan memaksimalkan performa badan” dan mereka membawa makanan sendiri bukan berarti mereka ga mau beli, tapi karena mereka lebih butuh performa dibanding nikmat dilidah sesaat. Waktu menunjukan jam 1 dan kita semua naik keatas, oia disini gw juga ketemu dengan temen les mandarin gw di ITB, dan ternyata dy juga tes SCB dan dari awal masuk udah ngeliat gw namun krn duduknya jauh jd belum menyapa. Kita semua naik keatas, dan menikmati kopi kembali dipantry, oia krn dah siang dan belum Dzuhur jadi yang muslim mampir ke musholla dahulu. Melewati pintu dengan kartu magnetik, melewati beberapa tempat wudu dan sampai di musholla. Sebelum sampai kita melewati kantornya, daann gw kembali takjub, kantornya sama seperti kantor pada umumnya, ada bilik2 dengan meja dan telepon diatasnya, yang membedakan adalah biliknya ga berdekatan alias luas, dengan pemandangan keluar (karena dinding luar penuh dengan kaca, temperatur ac sentral yang sangat baik (ademnya pas), komposisi cahaya yang juga cukup baik, rada redup namun tetap terang, membuat gw tercengang cukup lama. “Ini kantor yang gw pengen” itulah yang terucap didalam hati setelah melihat isi kantornya. Gw pun sholat dan kembali ke depan ruangan tes tadi setelah kembali terkagum – kagum dengan isi kantor tersebut. Entah kenapa semangat gw timbul dan berapi – api, dan gw pengen masuk kesini. Setelah ngobrol panjang, nama yang lolos telah muncul dan ditempel, karena pada rebutan ngeliat, gw memilih menghabiskan kopi yg gw ambil dari pantry tersebut. setelah habis dan mulai pada bubar dengan perasaan semangat gw berjalan ke tempat ditempelny daftar nama yang lolos sambil tersenyum, “hmm.. SCB. Tempat yang pas”. Dalam perasaan yang senang, berapi – api, dan motivasi tinggi mengikuti semua tes, realita berkata lain. Nama gw ga ada didaftar yang lolos ke tahap berikutnya.

Retak, remuk, pecah, hancur, itulah perasaan gw saat melihat nama gw ga ada didaftar yang lolos. Perasaan ga karuan, down, dan serasa jatuh ke jurang (walaupun gw ga pernah jatuh ke jurang). “Bear hayuu masuk” kata temen2 gw yang lolos, gw langsung bilang “wahh gw ga lolos”, dan mereka langsung terdiam. Gw langsung bilang “heii.. kan gw yang ga lolos knp kalian yang murung, gih masuk kedalam lewati tes berikutnya” sambil tersenyum. Mereka ttp menanyakan keadaan gw, tapi gw kembali bilang “gw doain moga kalian lolos, dan pastikan kalian masuk kedalam 15 orang yang direkrut tersebut, bikin bangga almamater kita”. Setelah berjabat tangan mereka masuk dan gw masuk kedalam lift. Gw sendiri dilift itu, dan satu hal yang gw inget kenapa mereka menyakan keadaan gw, krn gw sendiri tau : gw ga bisa menutupi tampang kecewa, kecewa beraat (seberat badan gw sendiri). Entah kenapa saat ini gw susah sekali tersenyum, gw ingat saat gw senyum tadi gw ga selepas biasanya, ada yang mengganjal diujung bibir gw, seperti ada yang memberi super glue sehingga gw susah sekali tersenyum. “ting”, pintu lift keluar dan gw mengembalikan id gw ke respsionis untuk ditukarkan dengan KTP. Gw keluar dari SCB dengan perasaan yang ga karuan. Gw tau dan nyadar koq klo gw “not good enough” tuk SCB, gw nyadar klo gw kalah dalam tes tadi, gw juga sadar gw termasuk dalam orang biasa yang keluar lebih awal dr gedung SCB, dan gw juga tau dan sadar satu hal yang dari dulu melekat di gw : Gw ga pernah suka dengan kekalahan, walaupun data dan realita menujukan fakta yang ngebilang gw kalah, tetep aja gw ga pernah suka dengan kekalahan.

Ingin rasanya gw teriak keras – keras disitu, tp daripada nanti gw digiring ke kantor polisi krn teriak2 digedung orang, gw lebih memilih menahan sekuat yang gw bisa (dan ternyata bisa) gw lewati gedung sampoerna strategic square dengan pemikiran apa yang membuat gw kalah. dari analisa gw (saat gw melamun hampir tertabrak ojek) gw punya beberapa paramater penilaian, pertama karena soalnya lah gw ga lolos, kedua karena persaingannya dalam artian orang2nya dengan talenta tinggi. Dari dua itu gw simpulkan bahwa setiap orang tidak dapat menyelesaikan soal – soal tadi jumlah jawabanlah yang menentukan, yaa ujung2nya sh balik ke skill.. yang lolos yang gw tau dari ITB, UI dan UGM (gw baru tau diakhir2 ada yg dr UGM) sedangkan yang ga lolos tetep aja dari ITB, UI, dan Binus (punten kodok, bukan maksud gw menyindir kampus tercinta elu, tp gw cuma bilang faktanya aja). Gw bisa ngebilang hampir semua tes yang gw ikuti minimal gw pernah lolos ke tahap berikutnya kecuali tiga perekrutan yang gw gugur dites awal : Schlumberger, Chevron dan Standart Chartered dan ketiga tes tersebut pasti saingan paling banyaknya dari ITB (SLB dan Chevron : tes dikampus ITB dgn peserta terbanyak dr ITB jg dan SCB : tes digedung SCB Jkt dengan jumlah peserta terbanyak dari ITB). Hadoohh.. sakit kepala gw klo saingannya dr ITB jg.

Gw duduk dihalte busway dan memandang tingginya gedung SCB, “biarlah ini menjadi benchmark kemampuan gw” dan setelah itu perasaan gw kembali ringan namun ttp aja masih ada rasa kecewa. Gw ambil busway ke arah blok M krn prinsip teguh bruang : “Selama mood belum membaik, Jangan pulang”. Jd satu2nya yang bs bikin mood gw membaik, yaa dengan jalan2. Gw melihat pemandangan kota Jakarta disore hari itu, gw turun di Blok M dan berputar – putar didalamnya, mencari – cari barang2 unik ataupun baju. Dari penelusuran, gw ga nemu barang yang bs dibeli (kecuali air minum dan biskuit) lalu gw kembali ke halte dan naik busway kembali. Disaat itu, entah kenapa gw pengen ke Ancol, ngeliat lauut.. Dari dulu gw selalu suka ngeliat laut, gw pengen punya kapal kecil dan berlayar diatasnya sambil memancing ikan, itulah indikator sukses gw kelak : punya kapal sendiri (hahaha muluk yaa). Abisnya dulu adik opa (kakek) gw kn nahkoda kapal PELNI (dulu KM Kelud atau KM Sinabung), opa gw yang ngambil KM Sinabung di German dan membawa ke Indo tepatnya ke Medan untuk pelayaran perdana. Dan opa gw jg yang memperbolehkan gw memegang kemudi dianjungan KM Sinabung. Itulah sejarah knp gw jd suka laut dan pengen punya kapal sendiri. Saat niat indah itu muncul, bagai alam tidak kompromi, hujan pun diturunkan. “beteee..” akhirnya gw turun diHarmoni dan nyobain satu koridor yang belum pernah gw coba : koridor 2, arah pulo gadung. Gw jalan2 lagi melihat pemandangan kota Jakarta, saat di pulo gadung gw cuma beli gorengan dan melihat sekeliling yang penuh sesak dengan angkutan berwarna merah. Lalu gw kembali ke busway krn hari makin gelap dan hujan. Dijalan gw ttp merenung sendiri dan menyakinkan diri gw bahwa SCB merupakan kegagalan yang tak seharusnya berlarut2. Musik di Ipod gw, jalanan yang hujan, pemandangan Jakarta, ademny busway rada membuat mood gw semakin baik dan munculah satu titik cerah dikepala gw : “I’m back”.

“Halo mas, travel yang kebandung jam brp y? ohh gt, boleh deh satu orang, seatny deket jendela y”. Itulah pertanda klo gw dah baikan : menelpon travel tuk balik k bdg. Tadi saat mood gw kembali baik, gw teringat kuliah besok Business Intelligent (BI) di ITB, dan gw jd inget besok persentasi kelompok. jadi ketimbang gw bermalam lagi di Mampang, mending gw langsung balik malam ni jg lagian mood gw kn dah membaik. “Gw boleh kecewa ga lolos di SCB, tp gw ga boleh mengecewakan anggota kelompok BI gw sendiri..”.
Dahh Jakarta…

10 November 2009 - Posted by | Jejak Karir

2 Comments »

  1. jangan kalah terhadap kegagalan

    saya kagum dengan kemampuan anda menuangkan apa yang Anda lihat, anda rasakan, dan anda ingat.

    anda orang yang besar.

    Jalanmu akan terbentang lebih lebar

    Thx for sharing bro

    Comment by dyan | 6 October 2010 | Reply

    • Saya juga yakin klo dyan juga orang yang besar (hanya orang yg besar yg mampu melihat dan menilai seseorang)
      Thanks y sis😉

      Comment by bruangku | 16 November 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s