Jejak Bruang

Ikuti kemana ku melangkah

Bokap gw wisuda

Pagiiii…..
Sapa nyokap gw yang lagi sibuk mondar mandir. Bagai dapur itu adalah laboratorium, dan nyokap adalah seorang scientist, lab itu penuh dengan bunyi, asap, dan bunyi potongan. Sesaat gw ngebayangin ada letupan ledakan seperti di lab2 yang gw liat di tv. Dari kepulan asap dilab itu, sang scientist berjalan meninggalkan labnya, terlihat dy memegang sesuatu dikedua tangannya. Tanpa menggunakan masker dan kaidah radiasi asap tumis cabe dan bawang, sang scientist membuyarkan imajinasi gw saat gw melihat apa yang sang scientist ini pegang :Sepiring Tempe Mendoan. “Makan dulu gih”, sahut nyokap.

Gw seduh teh andalan gw, dan mempersiapkan apa yang mau gw bawa hari ini. Yup hari ini bukanlah sekedar hari biasa, dan bukanlah karena hari ini hari terakhir gw UTS, tapi hari ini adalah hari bokap gw wisuda. Beres makan, gw mandi lalu gw idupin sedan gw yang udah gw tempeli kertas wisudawan kemarin. Oia nenek gw lg dateng hari ini, pasti dy bangga banget ngeliat anaknya wisuda. Karena gw ada ujian dulu, jd gw pisah mobil ama keluarga gw. Niat awal sih mau parkir di parkiran sipil, tapi pas dijalan kyny gw sempat deh klo parkir di Sabuga, jd aja gw parkir disabuga, tepat didepan gedungnya. Gw turun dan menyempatkan untuk foto2 pagi. Setelah gw liat jam, gw pun meluncur ke ruang ujian. Dari nama2 parkirannya pasti dah ketebak bokap gw lulusan dari mana. Yup, bokap gw baru menyelesaikan gelar MBA dari Institut Teknologi Bandung.

Menuju Sabuga

“Horee…” sahut temen sekelas gw saat telah meninggalkan ruangan ujian. Setelah ngobrol2 bentar, gw pun langsung berjalan kembali ke sabuga melewati terowongan yang tembus ke lapangan sabuga itu, untuk ngeliat prosesi wisuda bokap gw. Yang gw baru ngeh dan baru tau, ternyata kali ini wisudanya ga digabung dengan S1, jd S2 dan S3 wisudanya tersendiri yaitu hari ini hari jumat, sedangkan S1, besok hari sabtu (sesuai dengan tanggal dikalender akademik). Gw nyampe dan keluarga gw lagi didalam, y udh gw nyelonong masuk aja dimana pintunya ga dijaga. Di dalam auditorium sabuga itu, tepat saat sedang pemindahan tali wisudawan oleh rektor. Hehhe gw klo ingat sabuga ini gw jd ingat pas kemaren SBY kampanye di Bandung, dengan nuansa biru-nya-demokrat itu, baliho2 gede dan pin SBY. Sekitar 30 menit kemudian barulah bagian prodi bokap gw yang disuruh antri. Setelah antri panjang, barulah bokap tali toganya dipindahkan lalu bokap berjabat tangan dengan rektor, berjabat tangan dengan dekan, dan turun melalui tangga samping kembali ke tempat duduk. Barulah sekitar 30 menit kemudian, prosesi wisuda pertama ITB ini ditutup. Dan kita semua turun kebawah, gw salaman ama bokap dan mengucapkan selamat seperti yang dilakukan kk gw, nyokap gw memeluk haru bokap sambil mengucapkan selamat juga. Dan bokap memeluk nenek gw, yang disini nenek gw berlinang air mata. Disitu karena gw yg pegang kamera, jd gw jepret aja momen itu.

Gw tau koq kenapa nenek gw berlinang air mata, nenek gw ga pernah nyangka bokap bs menempuh pendidikan sejauh ini. Yup kl dr cerita nenek sih, bokap gw dulu ga suka kehidupan dikampungnya, Banjar Negara – Jawa Tengah. Dulu, kakek gw yang nyuruh bokap berhenti belajar dan bantu orang pikul beras, krn nurut kakek gw lebih baik otot dibanding otak. Bokap gw ga mau, bokap gw mau terus belajar. Menyinggung mengenai pendidikan, dulu bokap gw selalu ngutang biaya SPP sekolah, selalu bayarnya tiga bulan setelahnya saat siswa lain membayar tepat waktu, dan bokap gw jg satu2nya siswa yang langganan dipulangkan karena belum bayar SPP walapun telad bayar tp bokap selalu ranking lho dikelas. Terus gmn bokap bs menyelesaikan pendidikannya, nenek gw inilah yang menyuruh bokap gw untuk terus sekolah. Pas bokap gw nanya dari mana biayanya, nenek gw bilang “biar nanti ibu yang mencarikan, seandainya kulit ibu ini bisa dijual, ibu mau mengkuliti kulit ibu sendiri untuk SPP sekolah kamu”, rada miris jg sh pertama kali gw denger nenek gw bilang gt. Cukup dimengertilah yang hendak nenek gw sampaikan ke bokap gw adalah sekolah nomor satu. Yup disaat temen2 bokap ada yang malah jd tukang las, becak, meng-antar2 barang, hingga ada yang jd supir truk dibanding meneruskan sekolahnya, untuk mencari uang. Bokap fokus terhadap pendidikannya dan berhasil menyelesaikan tingkat SMA tepat waktu. Setelah itu gmn? Bokap meninggalkan rumah, merantau, dengan modal uang bis sekali jalan, uang saku, dan surat ke sodara kakek gw di Bandung. Yang sedih dalam perjalan bokap gw sh, kakek gw tu jarang sosialisasi ke sodaranya bahkan ga pernah ada kabar, makanya pas waktu bokap gw nyampe ditempat sodara kakek gw, bokap malah dianggap mau cari makan gratis, padahal bokap mau cari gimana caranya supaya bisa lanjut pendidikan di Bandung. Alhasil bokap gw dijadikan seperti pembantu gt (padahal itu om-nya sendiri), tinggal digarasi, potong rumput setiap minggu, bersih2 setiap sore, Yup rumahnya itu yang dijalan surapati (gaya ya dijalan utama). Moral yg gw petik dari sini, baik2lah ke keluarga jauh atau orang lain dan selalulah ber-sosialisasi (jangan individualis karena kita adalah tipe masyarakat yang komunal). Ending story, bokap dapat ikatan dinas dari Telkom (dulu sh namanya Perumtel), disekolahi dan mendapat asrama termasuk jaminan langsung masuk Telkom. Cerita bokap sh ada dua perusahaan yang nerima bokap : Telkom dan Pertamina (sama disekolahi, dpt asrama, langsung masuk Pertamina setelah lulus), bingung mw ambil yang mana bokap gw nanya ke kakek gw mana yang sebaiknya diambil. Dan kakek gw bilang “Ambilah yang pertama menerima kamu”, dan yang pertama memberitahu klo bokap diterima adalah Telkom. Terus om bokap yang didago? Akhirnya mereka menyadari bahwa bokap itu bukan mau makan gratis aja seperti yang mereka kira, tp bokap gw butuh tempat berteduh sementara guna mencari cara melanjutkan pendidikan. Hari dimana bokap bilang gt, mereka (sodara bokap), memaksa bokap untuk tinggal semalam dahulu (padahal bokap dah dapat asrama hari itu). Malam itu bokap ga tidur lagi digarasi, bokap dipersilahkan tidur dikamar belakang yang selama ini kosong, lalu mereka pun bercerita anggapan mereka selama ini dan sangat meminta permohonan maaf sebesar2nya. Malam itu menurut bokap, adalah malam yang seharusnya terjadi jika sedang bertemu dengan saudara.

Balik ke Sabuga, setelah bokap memeluk nenek gw, bokap pun naik ke panggung untuk foto bersama. Setelah itu, bokap pun keluar dan kita foto2 sekeluarga di Sabuga itu. Ehh,, gw belum cerita ya kenapa bokap ambil MBA? jadi gini,.,. dua tahun lalu yaitu 2007, bokap mendaftar ke ITB untuk program MBA, disitu gw dan keluarga gw rada bingung, kenapa bokap mau sekolah lagi? toh karir kan udah ga perlu lagi. Bokap gw memulai karir di Telkom dan bakal mengakhiri di Telkom juga, 2011 mendatang bokap gw udah pensiun. Dan posisi bokap di Telkom tergolong sangat baik, karena band (istilah sebutan di Telkom) bokap adalah band 1 grade 5 (1.5) (range band di Telkom sekaligus menyatakan posisi jabatan, paling atas adalah band 1, sedangkan paling bawah band 7), apa yang menarik dengan band ini? di telkom makin kecil bandnya, semakin tinggi posisinya. Direktur Telkom bandnya adalah 1.1, namun setelah berakhir jabatannya, band direktur tersebut akan turun ke 1.5. Sehingga setinggi2 karir di Telkom (direktur – 1.1) setelah selesai menjabat akan kembali ke band 1.5, itulah kenapa gw dan keluarga gw mempertanyakan kenapa bokap mau ambil MBA. Jawaban bokap simple, dari dulu bokap paling pengen ambil pendidikan lagi, tapi selalu tidak pernah bisa, karena sibuk atau karena banyak yang harus didahulukan untuk keperluan gw dan kakak gw. Pas sekarang ini, barulah bokap merasa bisa tenang mengambil pendidikan. Lagipula menurut bokap, semua orang sejajaran bokap minimal memiliki gelar MBA dibelakang namanya, hanya bokap saja yang tidak memiliki gelar MBA dibelakangnya. Ujung2nya, “Prestige” sh, lagian klo buku bikinan bokap jadi kan, gaya ada MBA dibelakangnya. Hahahha.. itulah bokap, yang ga kesampean dimasa lalu pasti sekarang ditebus, contohnya aja awal maret lalu, gw kaget digarasi rumah ortu gw di Awiligar, disamping motor Honda tiger gw (yang udh lama ga gw idupin) ada motor trail keluaran Kawasaki dengan plat putih. Itu bokap yang beli, dari dulu bokap pengen naik turun gunung pake motor trail, krn jalanan ke kebun bokap itu naik turun seperti yang bokap idamkan, makanya bokap beli deh motor trail itu. Ckckckckk..

Setelah jumatan dan makan siang, kita sekeluaga pergi ke jonas untuk foto wisuda bokap. Sambil menunggu giliran foto, gw memandang bokap yang sedang menerima telepon ucapan selamat dari kerabat kerjanya. Disitu gw memandang bokap dengan perasaan haru, menurut gw hidup bokap serba keterbalikan dalam pencapaiannya, disaat orang – orang menempuh pendidikan untuk mempatenkan pijakan dijalan karir, bokap malah bertarung dulu didunia karir hingga level teratas dan baru memulai pendidikan. Selama ini bokap memimpin hal2 yang sukar dengan learning by doing termasuk belajar literatur sambil berjalan. Jadi kaya ilmu kimia, bokap dapat dulu prakteknya dilapangan baru mengenal/menyadari teorinya (setelah masuk MBA). Setelah memandang bokap, gw pun memandang cermin besar disebelahnya yang tertempel didinding, gw melihat diri gw sendiri, “apa sh yang udah gw lakukan?”, bokap pernah bilang : “Biarlah apa yang dulu papa rasakan cukup hanya papa yang merasakan, sekarang anak2 fokus saja ke sekolah tanpa perlu dipulangkan karena belum bayar SPP”. Yup gw belum bisa seperti bokap, gw belum tau kapan gw bisa menyalip bokap, gw sekarang umur 23 tahun, umur yang terlampau matang krn menurut tradisi keluarga gw, saat anak lelaki berumur 20 tahun, itu adalah waktunya untuk merantau. Gw merantau kemana? hanya merantau ke Antapani dari Awiligar. Dengan segala fasilitas yang gw mau, gw dapatkan di Antapani ini. Gw terus memandangi diri gw, mencoba untuk membangkitkan api, api yang sama yang pernah menyala di diri bokap saat seumuran gw, api yang kobarannya sangat besar, besar dan menyala besar. Renungan gw itu buyar saat kita sekeluaga dipersilahkan untuk masuk kedalam studio. Dalam jepretan lampu blitz kamera, dalam suasana hangat keluarga, dan semupeng2nya gw memakai toga yang dipake oleh bokap gw, toga yang bakal gw pake saat lulus dari ITB nanti, gw pun tersenyum memandang kamera.

bokap resmi menyandang gelar MBA

“Selamat ya pah, selamat..”

note : oia… semenjak kakak gw demen foto keluarga, y udh aj kita bedua nebeng ikutan jeprat jepret disono. Dan kebetulan kk gw mw foto hamil (tren bgt dikalangan ibu2 hamil).

narsiiiss yuk de ! hayu kak !

23 October 2009 - Posted by | Jejak Harian

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s